Sebuah Kisah, Jalan Berliku Menuju Kebenaran Yang Dirindu

Terkirim 13 Juli 2010 oleh ADHA
Kategori: Uncategorized

10 January, 2007
Diceritakan oleh: Ibnu Abdi Robbihi

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam tercurah kepada Rasulullah. Amma ba’du.

“Dan di bumi terdapat tanda-tanda kekusaaan Allah bagi orang-orang yang yakin, bahkan dalam dirimu sendiri terdapat tanda-tanda itu apakah engkau tidak memperhatikannya.” (Adz Dzariyaat: 20-21)

Saudaraku, sejenak aku akan bercerita kepadamu sekilas perjalanan hidupku, semoga engkau bisa mengambil pelajaran darinya.

Masa Kecil

Dahulu aku adalah seorang anak kecil yang memiliki hobi menggambar, mendengarkan musik dan menyaksikan film kartun. Aku memang bukan anak gaul yang suka main bersama teman-teman yang lain pergi kesana dan kemari.

Ketika menginjak usia SD, orangtuaku memasukkan aku di sekolah Muhammadiyah di sebuah dusun di dekat rumah kakekku. Menjelang usia SMP aku telah dididik oleh kakakku untuk membenci Amerika, yah tepatnya ketika itu terjadi perang teluk. Saat itu ketertarikanku kepada dunia politik mulai tumbuh, berita-berita radio BBC pun ikut terserap di telingaku. Memang ayahku adalah seorang anggota TNI Angkatan Udara, namun ayahku adalah orang yang kritis kepada perilaku pejabat pemerintahan. Secara tidak langsung hal itupun mendorongku untuk bersikap kritis pula terhadap pemerintahan. Walaupun begitu, bukan berarti dunia militer tidak menarik bagiku. Di usia SMP itu aku berkeinginan untuk menjadi tentara yang berjuang membela tanah air. Sehingga akupun turut serta mendaftarkan diri dalam seleksi calon siswa SMA Taruna. Dengan taqdir Alloh, alhamdulillah aku tidak diterima di sana. Setelah itu harapan untuk menjadi tentara menjadi sirna.

Allah Ta’ala berfirman yang artinya,
“Bisa jadi kamu membenci sesuatu padahal itu baik bagimu, dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu padahal sebenarnya itu buruk bagimu, Allahlah yang maha tahu sedangkan kalian tidak mengetahui.” (Al Baqoroh: 216)

Masa Remaja

Lulus SMP aku menuruti saran ayahku untuk memilih sebuah sekolah unggulan di kota kami, dan alhamdulillah aku lolos seleksi dan bisa diterima di situ mengikuti jejak kakakku. Ternyata di sana pun aku termasuk siswa yang dipilih untuk masuk dalam tim peleton inti yang hobinya baris-berbaris, maklumlah SMA kami adalah sekolah yang sudah berulang kali menggaet juara baris-berbaris.

Sampai di sini aku masih menyenangi isu-isu politik apalagi yang berbau Islam, sehingga ketertarikanku untuk ikut berdakwah pun muncul melalui pekerjaan yang aku sukai yaitu membuat dekorasi. Nah, di lingkungan rohis (kerohanian Islam) SMA inilah aku mulai berkenalan dengan teman-temanku yang begitu bersemangat mengaji, mereka sangat aktif mengikuti kajian salaf yang diadakan di sebuah masjid di dekat SMA kami. Aku salut dengan komitmen mereka yang tinggi untuk menegakkan sunnah Nabi, dengan memelihara jenggot walaupun cuma beberapa helai, dengan mengenakan celana panjang yang tidak melampaui mata kaki walaupun masih dilipat, dan dengan semangat berapi-api menghalangi terjadinya pacaran dan kholwat di lingkungan sekolah kami.

Dan di situ pulalah aku mulai mengenal bahwa menggambar makhluk bernyawa itu dilarang, musik itu haram dan demokrasi itu buruk. Dengan taqdir Alloh, di kelas 2 SMA, aku mendapat bagian sebagai salah seorang pengurus harian OSIS di sekolah kami. Walaupun jika dilihat dari latar belakangnya sebenarnya pengalaman organisasiku tidak banyak.

Problematika Dakwah di SMA

Menjelang akhir kepengurusan aku mulai menghadapi masalah yang cukup pelik, yaitu timbulnya perselisihan antara teman-teman kami dari kubu Rohis yang anti musik dengan sebagian aktifis OSIS yang pro musik. Hal itu semakin memuncak dengan adanya penyelenggaraan acara malam tutup buka tahun yang untuk menyambut siswa baru dan perpisahan kelas tiga yang sudah lulus, tentu saja acaranya sarat dengan musik, sehingga konflik ini pun terangkat ke forum guru bahkan kepala sekolah. Sementara aku berada di pihak yang serba salah, karena ketika itu aku adalah seorang sekretaris bidang I (Ketuhanan Yang Maha Esa) yang membawahi Rohis sekaligus sebagai salah seorang Steering Committee dari acara malam tutup buka tahun itu, konflik pun memanas, terjadilah aksi pembakaran dan perobekan tiket, bahkan hampir terjadi bentrok fisik di antara sesama siswa muslim, bahkan sampai terjadi ketegangan antara kubu Rohis dengan guru.

Disitulah aku merasakan betapa susahnya mengatasi permasalahan semacam ini. Bisakah anda bayangkan, musik yang sudah seolah-olah mendarah daging di sebagian besar kaum muslimin di negeri ini terutama di kalangan para pemuda harus berhadapan dengan fatwa haram yang disampaikan oleh para remaja yang masih baru mengaji ini, apalagi sikap mereka sangat keras dalam menolak acara semacam ini. Aku yang sangat miskin ilmu tentu bingung mencari solusi permasalahan ini. Sampai-sampai teman-teman yang anti musik itu seolah-olah menjadi musuh kami. Sehingga di ruang guru aku sempat sampaikan usul kepada pembina OSIS agar mendatangkan Ustadz yang mengajari anak-anak yang ‘ekstrim’ itu. Tapi usulku seperti angin lalu, akupun tidak habis pikir, bagaimana masalah ini selesai kalau akar permasalahannya tidak dipecahkan yaitu apakah musik itu benar-benar haram. Itulah pertanyaan besar yang tersisa di benakku, dan akhirnya dengan pertolongan Alloh membawaku bergabung dengan sahabat-sahabatku sesama pembenci musik.

Hidupku berubah, aku yang dulunya suka menggambar, suka musik dan menyenangi isu-isu demokrasi setelah masa-masa itu meninggalkan gambar, musik dan demokrasi.

Allah Ta’ala berfirman yang artinya,
“Tidaklah pantas bagi orang yang beriman baik laki-laki maupun perempuan apabila Allah dan Rasul-Nya telah memutuskan suatu perkara ada bagi mereka pilihan yang lainnya dalam urusan mereka, dan barangsiapa yang durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya sunguh dia telah tersesat dengan kesesatan yang nyata.” (Al Ahzab: 36)

Saudaraku, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan menggantikannya dengan sesuatu yang lebih baik.”

Beliau juga bersabda, “Kelak akan benar-benar ada beberapa kelompok manusia dari kalangan umatku yang berusaha menghalalkan kemaluan (zina), sutera, khamr dan al ma’aazif (alat-alat musik).” (HR. Bukhori)

Beliau juga bersabda, “Sesungguhnya termasuk orang yang paling pedih adzabnya di hari kiamat nanti adalah para perupa/tukang gambar.” (HR. Bukhori)

Imam Ahmad mengatakan, “Barangsiapa yang menolak hadits Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam maka dia berada di tepi jurang kebinasaan.”

Saudaraku, Alloh Ta’ala berfirman yang artinya, “Barangsiapa yang memutuskan hukum tidak dengan hukum yang diturunkan Allah maka mereka itulah orang-orang kafir.” (Al Ma’idah: 44)

Tentu hadits-hadits dan ayat-ayat ini akan terasa sangat berat diterima oleh orang yang sudah bertahun-tahun dididik untuk menyukai musik, menggambar dan asyik dengan demokrasi. Tapi ketahuilah, kalau akidah anda masih bersih niscaya firman Allah dan sabda Rasul-Nya itulah yang justeru anda pilih dan anda pegang, bukan pendapat akal kebanyakan manusia.

Bukankah Allah Yang mahatahu telah berfirman, “Sungguh jika engkau mengikuti kebanyakan manusia yang ada di muka bumi ini niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (Al An’aam: 116)

Oleh karena itu daripada sibuk ngobrol atau nge-game mengapa anda tidak memilih untuk menghadiri majelis-majelis ilmu syar’i yang membimbing anda menuju kebahagiaan yang sejati dan bukan sementara, kenikmatan abadi di surga nanti?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa menempuh suatu jalan dalam rangka menuntut ilmu syar’i niscaya Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)

Imam Ahmad mengatakan, “Manusia itu lebih membutuhkan ilmu jauh lebih banyak daripada kebutuhannya terhadap makan dan minum, karena makan dan minum paling sekali atau dua kali saja dalam sehari, akan tetapi ilmu selalu dibutuhkan sepanjang tarikan nafas.”

Ingatlah saudaraku, waktu adalah pahala, kalau waktumu bisa kau habiskan berjam-jam untuk perkara dunia padahal dunia itu cuma sementara, kemudian untuk akhirat engkau sangat bakhil (kikir), sehingga sholatmu pun kilat laksana petir menyambar, mushaf Al Qur’an pun berdebu di atas rak jarang dibuka apalagi dibaca dan dipahami maknanya, majelis ilmu pun kau sia-siakan, sholat jama’ah pun kau tinggalkan, waktu pagi dan sore pun berlalu tanpa dzikir di lisan.

Allah Ta’ala berfirman, “Maka bersegeralah kembali menuju ketaatan kepada Allah.” (Adz Dzariyat: 50)

Allah Ta’ala berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang sudah dipersiapkannya untuk menghadapi hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah maha mengetahui semua yang kamu kerjakan.” (Al Hasyr: 18)

Tahun Terakhir di Bangku SMA

Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kau sampai mereka mau merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (Ar Ra’d: 11)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah suatu kaum berkumpul dalam salah satu rumah di antara rumah-rumah Allah (masjid) mereka membaca kitabullah dan saling mempelajarinya di antara mereka kecuali pasti akan turun kepada mereka ketenangan, mereka akan diliputi kasih sayang, malaikat pun mengelilingi mereka dan Allah pun menyebut-nyebut mereka di hadapan para malaikat yang ada di sisi-Nya.” (HR. Muslim)

Setelah sekian lama aktif di baris berbaris, mendekorasi, mengurusi OSIS maka di tahun terakhir bangku SMA, Allah membukakan hatiku untuk menekuni kajian-kajian salaf yang ada di sekitar SMA kami, alhamdulillah sejak itulah ketenteraman dan kesejukan majelis ilmu mulai mewarnai kehidupanku, kesejukan yang belum pernah aku temukan sebelumnya, begitu indahnya mendengarkan untaian firman Allah dan sabda Rasul-Nya disertai nasehat dan bimbingan dari para ulama’, aku duduk di sebuah majelis dimana ustadz yang mengajarnya adalah Ustadz yang membina teman-temanku yang kebablasan tadi, akhirnya ustadz yang dulunya menjadi orang yang tidak aku senangi gara-gara musik itu kini menjadi orang yang kucintai karena Alloh -semoga Allah menjaga beliau- karena jasanya yang sangat besar membina dakwah salaf di sekolah kami walaupun itu dilakukannya dari luar pagar sekolah.

Setelah kejadian itu pula sahabat-sahabat kami pun meyadari kesalahan mereka yang terlalu keras dalam menyikapi persoalan musik ini, sehingga memunculkan konflik yang berkepanjangan di sekolah kami. Inilah akibat sikap yang tidak hikmah dalam mengingkari kemungkaran, dampak negatif yang kembali menyerang dakwah itu sendiri.

Allah Ta’ala berfirman, “Serulah (manusia) agar kembali kepada jalan Rabbmu dengan penuh hikmah serta nasehat yang baik, dan (bila perlu) berdebatlah dengan mereka dengan cara yang lebih baik.” (An Nahl: 125)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersabda, “Sesungguhnya kelembutan itu tidaklah ada pada sesuatu kecuali pasti menghiasinya, dan tidaklah dicabut dari sesuatu kecuali pasti menghancurkannya.” (HR. Muslim)

Berpetualang Mencari Kebenaran

Disamping itu perlu aku sebutkan pula bahwa sebelumnya aku pernah pula tertarik mendengarkan pengajian padang bulan cak Nun dan acara kajian ala filsafat Damardjati, aku juga sempat menjadi pengagum Amien Rais yang menggerakkan reformasi dan bahkan bergabung dalam demonstrasi besar-besaran yang digalakkannya sehari sebelum lengsernya Pak Harto dari kursi Presiden.

Masih tersimpan dalam ingatanku, sebuah nyanyian sadis yang selalu menghiasi mulut para demonstran di sekitarku ketika itu, “Gantung, gantung Soeharto…” (semoga Allah mengampuni kesalahan beliau dan menjaganya). Wallohul musta’an, bukankah ucapan itu modelnya kaum takfiri (yang suka mengkafirkan orang karena dosa besar). Hari itu demo besar-besaran terjadi dimana-mana, demokrasi yang menuhankan pendapat mayoritas rakyat seolah-olah menjadi raja.

Allah berfirman, “Sungguh jika engkau mengikuti kebanyakan manusia yang ada di muka bumi ini niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (Al An’aam: 116)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak halal menumpahkan darah seorang muslim kecuali karena salah satu dari tiga alasan; Seorang yang sudah beristeri berzina, seorang muslim yang membunuh saudaranya, atau seorang yang meninggalkan agamanya memisahkan diri dari jama’ah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Selain itu aku juga pernah beberapakali merekam pengajian Aa’ Gym yang disetel di radio karena sangat tertarik dengan metode penyampaiannya yang menyentuh hati. Itu terjadi sebelum nama Aa’ Gym mencuat besar-besaran di televisi dan media masa lainnya. Semoga Allah mengembalikannya ke jalan yang lurus. Selain itu dunia sufi pernah mewarnai kehidupanku ketika para pemuda dari kampung kami diajak untuk ikut dzikiran dan pengajian di sebuah kampung santri Mlangi, yang di sekeliling mesjidnya full dengan kuburan yang diziarahi oleh para pengunjung dari berbagai daerah yang jauh. Sesudah itu pula aku pernah menggalakkan dzikir model sufi ini di masjid kampung kami dengan alasan untuk menghidupkan aktivitas agama bagi pemuda di mesjid, sehingga akhirnya akupun menyesal atas tindakanku yang hanya berdasar semangat saja dan miskin ilmu syar’i ini.

Memang hati adalah bagian terpenting dari amal lahiriyah kita, kalau hati baik maka seluruh amalan pun menjadi baik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketahuilah di dalam jasad ada segumpal daging, jika ia baik maka baiklah seluruh anggota badan tapi jika dia rusak maka rusak pulalalah seluruh anggota badan ketahuilah segumpal daging itu adalah jantung.” (HR. Muslim). Akan tetapi cara memanajemen hati agar baik bukanlah hasil rekaan sendiri, sebab Nabi juga diutus untuk mengajari ummatnya tentang bagaimana mensucikan hati.

Allah Ta’ala berfirman, “Sebagaimana Kami telah mengutus kepada kalian seorang Rasul dari kalangan kalian yang membacakan kepada kalian ayat-ayat Kami, dan mensucikan (jiwa) kalian serta mengajarkan kepada kalian Al Kitab dan Al Hikmah (As Sunnah) dan mengajarkan segala sesuatu yang dulu tidak kalian ketahui.” (Al Baqoroh: 151)

Imam Ibnu Katsir mengatakan mengenai firman Allah, “Dan mensucikan kalian” yaitu membersihkan kalian dari akhlaq yang rendah, jiwa yang kotor dan perbuatan-perbuatan jahiliyah…” (Tafsir Ibnu Katsir jilid 1). Syaikh As Sa’di mengatakan dalam tafsirnya terhadap firman Allah “Dan mensucikan kalian” yaitu membersihkan akhlak dan jiwa kalian dengan membimbingnya dengan akhlak yang indah dan membersihkannya dari akhlak-akhlak yang rendah, hal itu dilakukan dengan membersihkan mereka dari kotoran syirik menuju tauhid, membersihkan diri dari riya’ menuju ikhlash, dari dusta menjadi jujur, dari khianat menjadi amanat, dari sombong menjadi tawadhu’, dari akhlak yang jelek menjadi berakhlak baik…” (Taisir Karim Ar Rahman).

Kita tidak boleh mensucikan jiwa dengan cara-cara bid’ah yang dibenci oleh agama. Rasul bersabda, “Barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan yang tidak ada dasarnya dari kami maka tertolak.” (HR. Muslim)

Tidakkah kita ingat kisah Abdullah bin Mas’ud rodhiallahu’anhu yang menjumpai sekumpulan orang yang berdzikir dengan berjama’ah, salah seorang memimpin dan yang lainnya mengikutinya, karena mereka mengerjakan sesuatu yang baru dalam agama maka Abdullah bin Mas’ud pun menegur mereka dengan keras. Tapi mereka mengelak dengan alasan “Wahai Abu Abdirrahman, tidaklah kami bermaksud kecuali kebaikan” Maka Ibnu Mas’ud pun menjawab, “Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan tapi tidak mendapatkannya.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saja manusia paling mulia yang pernah ada di muka bumi ini melarang kuburannya dijadikan sebagai tempat perayaan yang dikunjungi atau sebagai tempat beribadah, apalagi kuburan orang selain beliau!

Nabi berdo’a, “Ya Allah, janganlah jadikan kuburku sebagai berhala yang disembah, sungguh besar murka Allah kepada kaum yang menjadikan kubur-kubur Nabi mereka sebagai tempat beribadah.” (HR. Malik dan lain-lain)

Pemikiran Hizbut Tahrir juga sempat menarik perhatianku, sehingga aku sempat membaca sebuah buku karya Abdul Qodim Zallum yang berjudul Demokrasi Sistem Kufur yang dipinjamkan seorang teman kepadaku ketika mengikuti acara pembekalan menjelang UMPTN di sebuah Masjid terkenal di Kotabaru, memang semangat mendirikan khilafah adalah sesuatu yang paling menarik bagiku dari gerakan ini, namun itu tidak mengendap lama karena keyakinanku tentang kebenaran manhaj ahlus sunnah sudah mulai kuat. Bagaimana mungkin negara Islam tegak jika kaum muslimin saja masih berpecah belah cara hidupnya, bahkan jauh dari nilai-nilai agama.

Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sampai mereka merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (Ar Ra’d: 11). Di dalam ayat ini Allah tidak mengatakan “…sampai mereka merubah apa yang ada pada diri para pemimpin pemerintahan mereka…” tentu saja Allah lebih tahu dan lebih bijaksana.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika kalian berjualbeli dengan cara ‘inah (salah satu jenis riba), dan kalian pegang ekor-ekor sapi, kalian senang dengan tanaman-tanaman kalian, lantas kalian pun meninggalkan jihad, maka Allah pasti akan menimpakan kehinaan kepada kalian, Allah tidak akan mencabutnya dari kalian sampai kalian kembali kepada agama kalian.” (HR. Abu Dawud, Silsilah Ash Shohihah karya Syaikh Al Albani hadits no 11)

Bersentuhan Dengan Lingkungan Kampus

Begitulah hari demi hari kulalui dengan pencarian terhadap nilai-nilai kebenaran yang hakiki, sampai UMPTN pun berlalu dan aku sudah duduk di bangku kuliah.

Di lingkungan baru ini aku berusaha mencari tempat-tempat kajian yang bisa aku ikuti, pengajian yang diadakan orang-orang Ikhwanul Muslimin (IM) pun pernah aku datangi, tapi sayang ilmu syar’i sangat minim kudapatkan di sana, karena yang ada adalah semangat pergerakan yang sarat dengan muatan politis dan kekuasaan. Tidak berhenti di situ, Risalah Pergerakan Hasan Al Banna pun sempat aku baca dan aku kaji, walaupun sedikit banyak aku sudah tahu penyimpangan yang ada pada beliau. Demikian pula buku Yusuf Al Qaradhawi yang ada di perpustakaan fakultas kami aku baca dan aku bandingkan dengan kritikan ulama Ahlu Sunnah yang diarahkan kepada beliau, dan memang ternyata Syaikh Yusuf Al Qaradhawi memiliki pendapat-pendapat yang amat menyimpang dalam bukunya Ash Shohwah Al Islamiyah bainal Ikhtilaf al Masyru’ wa Tafarruq al Madzmum (yang diterjemahkan oleh Robbani Press dengan Prinsip-Prinsip Gerakan Islam) terutama yang berkaitan dengan masalah hadits perpecahan ummat. Suatu saat seorang aktifis IM ketika berdialog dengan seorang ikhwan pernah ditanyakan mengenai pembelaannya terhadap Yusuf Qaradhawi, apakah dia pernah membaca bukunya Yusuf Qaradhawi yang itu, maka dia menjawab belum pernah?? Allohu akbar (dalam hati saya saya bertanya-tanya lalu darimana dia bisa membela pemikiran Yusuf Al Qaradhawi sementara bukunya saja belum pernah baca). Memang perdebatan dengan orang-orang yang keras kepala adalah perbuatan membuang-buang energi.

Saudaraku, ketahuilah jalan kebenaran cuma satu, Allah Ta’ala berfirman, “Dan sesungguhnya ini adalah jalanku yang lurus maka ikutilah dia dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain) karena itu akan mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya, itulah yang diwasiatkan Allah kepada kalian agar kalian bertakwa.” (Al An’aam: 153)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Sesungguhnya agama ini akan berpecah menjadi 73 golongan, 72 di neraka dan satu di surga yaitu al jama’ah.” (HR. Abu Dawud), dalam riwayat lain beliau ditanya siapakah yang selamat itu? maka beliau menjawab, “yaitu yang beragama sebagaimana aku dan para sahabatku pada hari ini.” Inilah manhaj salaf (cara beragamanya kaum salaf), manhajnya para sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in serta para imam yang empat.

Imam Malik mengatakan, “Tidak ada yang mampu memperbaiki keadaan generasi akhir dari umat ini kecuali dengan sesuatu yang telah memperbaiki generasi awalnya.”

Dakwah Salafiyah Versus Dakwah Hizbiyyah

Sekarang alhamdulillah, perkembangan dakwah salaf di lingkungan kampus kami cukup bagus walaupun bila dilihat dari kuantitas mungkin masih relatif kecil. Dakwah Ikhwanul Muslimin pun (yang sekarang lebih ngetrend dengan nama Tarbiyah) sebenarnya sudah tidak diminati kecuali oleh orang-orang yang hobinya berpolitik dan demonstrasi, serta kalangan akhwat yang terlalu mengedepankan perasaan. Orang yang bijak pasti bisa menilai bahwa dakwah salafiyah merupakan dakwah terbaik, dan satu-satunya jalan keselamatan dari perpecahan di dunia dan kebinasaan di akhirat. Kami tidak perlu repot-repot membawakan bukti karena masih ada saksi hidup tokoh-tokoh mantan aktifis yang pernah berkecimpung dalam pergerakan yang kini sudah insaf dan menemukan jalan kembali, yaitu manhaj salaf yang mulia ini.

Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Dan barangsiapa yang menentang Rasul setelah petunjuk jelas baginya, dan dia mengikuti selain jalannya orang-orang yang beriman Kami akan biarkan dia leluasa dalam kessatannya dan Kami akan memasukkannya ke dalam Jahannam, sesungguhnya Jahannam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.” (An Nisaa’: 115)

Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Orang-orang yang terdahulu masuk Islam dari kalangan Muhajirin dan Anshor serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridho kepada mereka dan mereka pun ridho kepada-Nya, Allah telah memepersiapkan bagi mereka surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai mereka kekal di dalamnya selama-lamanya, itulah kemenangan yang besar.” (At Taubah: 100)

Rasulullah bersabda, “Barangsiapa diantara kalian yang masih hidup sesudahku niscaya di akan melihat perselisihan yang banyak, maka berpegang teguhlah dengan sunnah (jalan hidup)ku dan sunnah khulafa’ur rasyidin yang bertpetunjuk gigitlah sunnah itu dengn gigi geraham, serta jauhilah perkara-perkara yang diada-adakan, karena setiap yang diada-adakan adalah bid’ah dansetiap bid’ah itu sesat.” (HR. Abu Dawud dan lain-lain)

Biarlah mereka yang tidak percaya dengan kenyataan ini merasakan betapa susahnya menempuh kejayaan yang mereka cita-citakan dengan terjun di parlemen, dengan gerakan rahasia menghasut massa, memompa semangat para pemuda untuk menggulingkan penguasa dengan cara mereka atau menyibukkan mereka dengan dzikir-dzikir bid’ah dan pemikiran-pemikiran liberal, atau yang menyibukkan para pemuda yang tidak becus berpakaian dengan politik internasional, karena cepat atau lambat mereka akan merasakan pahitnya buah kesesatannya sendiri, sebagaimana yang dikatakan oleh Ar Razi setelah menyadari kekeliruannya yang sekian lama bergelut dengan ilmu kalam, “Barangsiapa menempuh cara sebagaimana apa yang pernah aku tempuh niscaya merasakan apa yang sudah aku rasakan.”

Namun kami akan mengingatkan disini, bahwa kematian pasti datang dan anda tidak tahu kapan malaikat maut datang, seandainya Allah masih memberikan umur bagi anda untuk bertaubat dari manhaj yang menyimpang maka bersyukurlah, tapi jika ternyata malaikat maut menjemput sementara anda belum bisa menikmati indahnya manhaj salaf, maka janganlah mencela kecuali diri anda sendiri.

Allah Ta’ala berfirman, “Demi masa, sesungguhnya seluruh manusia berada dalam kerugian kecuali orang-orang yangberiman, beramal shalih, saling mewasiatkan dalam kebenaran dan saling mewasiatkan dalam kesabaran.” (Al ‘Ashr: 1-3)

Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Orang-orang yang terdahulu masuk Islam dari kalangan Muhajirin dan Anshor serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridho kepada mereka dan mereka pun ridho kepada-Nya, Allah telah mempersiapkan bagi mereka surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai mereka kekal di dalamnya selama-lamanya, itulah kemenangan yang besar.” (At Taubah: 100)

Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Barangsiapa yang dibebaskan dari neraka dan dimasukkan ke surga maka sungguh dia telah menang, dan tidaklah kehidupan dunia itu kecuali hanya sekedar kesenangan yang menipu.” (Ali Imran: 185)

***

Kedudukan Tauhid dalam Islam dan Urgensinya

Terkirim 8 Januari 2010 oleh ADHA
Kategori: Uncategorized

Kedudukan Tauhid

Sesungguhnya kaidah Islam yang paling agung dan hakikat Islam yang paling besar; satu-satunya yang diterima dan diridloi Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk hamba-hamba Nya, yang merupakan satu-satunya jalan menuju kepada Nya, kunci kebahagiaan dan jalan hidayah, tanda kesuksesan dan pemelihara dari berbagai perselisihan, sumber semua kebaikan dan nikmat, kewajiban pertama bagi seluruh hamba, serta kabar gembira yang dibawa oleh para Rasul dan para Nabi adalah ibadah hanya kepada ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala semata dan tidak menyekutukannya, bertauhid dalam semua keinginannya terhadap Allah Subhanahu Wa Ta’ala, bertauhid dalam urusan penciptaan, perintah-Nya dan seluruh asma (nama-nama) dan sifat-sifat Nya. Allah Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman: “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”
(QS An Nahl: 36)

” Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”. (QS Al Anbiya’ : 25)

“Padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (QS At Taubah: 31)

“Maka sembahlah Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik).”
(QS Az Zumar: 2-3)

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus”
(QS Al Bayyinah: 5)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan:
“Orang yang mau mentadabburi keadaan alam akan mendapati bahwa sumber kebaikan di muka bumi ini adalah bertauhid dan beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala serta taat kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebaliknya semua kejelekan di muka bumi ini; fitnah, musibah, paceklik, dikuasai musuh dan lain-lain penyebabnya adalah menyelisihi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berdakwah (mengajak) kepada selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Orang yang merenungi hal ini dengan sebenar-benarnya akan mendapati kenyataan seperti ini baik dalam dirinya maupun di luar dirinya.” (Majmu’ Fatawa 15/25)

Karena kenyataannya demikian dan pengaruhnya-pengaruhnya yang terpuji ini, maka syetan adalah makhluk yang paling cepat (dalam usahanya) untuk menghancurkan dan merusaknya. Senantiasa bekerja untuk melemahkan dan membahayakan tauhid itu. Syetan lakukan hal ini siang malam dengan berbagai cara yang diharapkan membuahkan hasil.

Jika syetan tidak berhasil (menjerumuskan ke dalam) syirik akbar, syetan tidak akan putus asa untuk menjerumuskan ke dalam syirik dalam berbagai kehendak dan lafadz (yang diucapkan manusia). Jika masih juga tidak berhasil maka ia akan menjerumuskan ke dalam berbagai bid’ah dan khurafat.
(Al Istighatsah, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah hal 293, lihat Muqaddimah Fathul Majiid tahqiq DR Walid bin Abdurrahman bin Muhammad Ali Furayyaan, hal 4)

Setiap dakwah Islam yang baru muncul tidak dibangun di atas tauhid yang murni kepada Allah Subhaanahu Wa Ta’ala dan tidak menempuh jalan yang telah dilalui oleh para salaful ummah yang shalih, maka akan tersesat hina dan gagal, meski dikira berhasil, tidak sabar ketika berhadapan dengan musuh, tidak kokoh dalam al haqq dan tidak kuat berhadapan (dengan berbagai rintangan).

Kita saksikan banyak contoh-contoh dakwah yang dicatat dalam sejarah berbicara kenyataan yang menyedihkan ini dan akhir yang buruk. Dakwah-dakwah yang berlangsung bertahun-tahun, yang telah mengorbankan nyawa dan harta kemudian berakhir dengan kebinasaan.

Namun seorang mu’min yang yakin dengan janji Allah yang pasti benar, tidak akan putus asa dan menjadi kendor, tidak akan gentar menghadapi berbagai cobaan dan tidak akan menerima jika sekian banyak percobaan-percobaan itu berlangsung silih berganti tanpa ada manfaat yang diambil atau jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya.
(Sebagaimana hadits dari sahabat Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari (no 6133) dan Imam Muslim (no 2998) serta Imam Ahmad dalam Musnadnya (2/379)

Sudah ada teladan dan contoh yang paling bagus pada diri Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat.” (QS Al Ahzab: 21)

Inilah manhaj pertama dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam berdakwah kepada tauhid, memulai dengan tauhid dan mendahulukan tauhid dan semua urusan yang dianggap penting.

Urgensi Tauhid
Untuk memperkokoh pemahaman kita tentang pentingnya aqidah tauhid dalam kehidupan, maka pada kesempatan ini Al Madina mencoba mengangkat tulisan syaikh jamil zainu seorang ulama besar di jazirah Saudi Arabia, yang disusun dalam poin-poin dengan maksud memudahkan pemahaman kita.

Allah telah menciptakan alam semesta untuk sebuah tujuan yaitu ibadah(tauhid), dan Allah mengutus para rasul untuk menyeru manusia kepada tauhid ini. Bahkan Al Quran mengkedepankan pembahasan tauhid ini dalam kebanyakan surat-suratnya.al quran pun memaparkan kejelekan syirik(lawan dari tauhid) yang berlaku pada individu dan masyarakat.

Syirik pula merupakan sebab kehancuran kehidupan manusia di dunia dan akhirat. Sesungguhnya para Rasul memulai dakwah mereka untuk mengajak manusia kepada Tauhid. Firman ALLAH yg artinya : “Tidaklah Kami mengutus seorang rasul sebelummu kecuali Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Aku, maka beribadahlah kepada-Ku” (QS Surat Al Anbiya’)

Rasul pun mentarbiyah(memberikan pendidikan) kepada sahabatnya tentang tauhid ini semenjak mereka kecil, sebagaimana perkataan beliau terhadap ibnu Abbas

“Apabila Engkau memohon maka mohonlah kepada Allah dan apabila engkau meminta pertolongan mintalah pertolongan kepada Allah .” ( HR. Tirmidzi )

Tauhid inilah hakikat dari agama Islam yang dibangun diatasnya bangunan Islam yang lain.

Rasul mengajarkan para sahabat agar memulai dakwahnya dengan tauhid, beliau bersabda kepada Muadz bin Jabal yang diutus ke Yaman :
” Jadikanlah awal yang kamu seru adalah syahadat Laa ilaaha illallah, pada riwayat yang lain agar mereka mentauhidkan Allah” ( Muttafaq Alaih)

Tauhid adalah perwujudan dari syahadat Laa ilaaha illallah dan Muhammad Rasulullah yang maknanya tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah dan tidak beribadah kecuali dengan syariat yang dibawa oleh Rasulullah. Syahadat inilah yang memasukkan seseorang kepada Islam, ia juga kunci Surga, yang seorang akan masuk surga bila mengucapkannya selama tidak beraktivitas yang membatalkan Syahadat tersebut.
Kafir Qurays menawari Rasulullah dengan kekuasaan, harta, wanita dan materi dunia yang lain agar rasul meninggalkan dakwah Tauhid ini. Rasul menolak tawaran tersebut dan terus menggencarkan aktivitas dakwahnya walau menanggung beragam ujian dan cobaan. Hingga berlalu 13 tahun dan setelah itu mekah ditakhlukkan, dihancurkan berhala yang disembah oleh orang kafir Quraisy. Firman ALLAH yang artinya : “Telah datang kebenaran dan hancur kebatilan sesungguhnya kebatilan itu pasti akan hancur ” (QS Al Isra’).

Tauhid adalah kewajiban tugas seorang muslim, dengannya dimulai dan diakhiri kehidupannya. Dan tugas dalam kehidupannya adalah menegakkan Tauhid, berdakwah kepada tauhid. Tauhid pula lah yang menyatukan hati-hati orang-orang yang beriman , dan kita mohon kepada Allah agar menjadikan kalimat Tauhid sebagai akhir kehidupan kita.

Silahkan menyalin & memperbanyak artikel ini dengan mencantumkan url sumbernya.
Sumber artikel : http://www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=153

Ketahuilah Wahai Saudaraku, berQURBAN itu WAJIB hukumnya (bagi yg mampu)

Terkirim 25 November 2009 oleh ADHA
Kategori: Uncategorized

Bismillahirrohmanirrohiim.

{Tulisan dibawah ini adalah BANYAK mengutip dari Ahkaamu Al’ Iidaini Fii Al-Sunnah Al-Muthahharah, edisi Indonesia Hari Raya Bersama Rasulullah, oleh Syaikh Ali bin Hasan bin Ali Abdul Hamid Al-Halabi Al-Atsari, Pustaka Al-Haura’, penerjemah Ummu Ishaq Zulfa Hussein,

ADAPUN tulisan yg dimulai dan diakhiri dengan tanda === itu adalah tulisanku (Irfani ADHAri, hanya tholibul’ilmi shoghirun jiddan), untuk itu jika ada kesalahan mohon diperbaiki}

=== Sesungguhnya segala puji hanya milik Allah ‘azza wa jalla, Rabb yang istiwa DIATAS ‘arsy yang agung, kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya, kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri-diri kami dan dari kejelekan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barang siapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.

Aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwasanya Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wasallam adalah hamba dan RasulNya.

Sesungguhnya perkataan yang paling benar adalah Kitabulloh,  sebaik-baik petunjuk adalah PETUNJUK Muhammad shallallohu’alaihi wasallam, dan seburuk-buruk perkara adalah perkara yang diada-adakan (dalam ibadah mahdoh),  Sesungguhnya SETIAP perkara yang diada-adakan adalah BID’AH, setiap bid’ah adalah SESAT, dan setiap kesesatan tempatnya adalah neraka.

Ketahuliah Wahai saudara-saudaraku se-Islam yang ku cintai, berQurban itu WAJIB hukumnya (bagi yang mampu). MAMPU adalah memiliki kelapangan harta, maksudnya seseorang dianggap mampu berqurban jika setelah kebutuhan pokoknya terpenuhi tetnyata ia masih memilki uang yang cukup  untuk membeli hewan Qurban (sekitar 1 juta sudah bisa utk membeli kambing). Maka baginya WAJIB berqurban.

Al hasil jika ia berqurban, dia akan mendapatkan PAHALA yang begitu sangat besar (termasuk amal sholih yg agung di 10 hari awal dzulhijjah) dijanjikan surga,  jika tidak berqurban maka ia berDOSA terancam Neraka.  Ingatlah wahai saudaraku, bahwa dihari akhir kelak pahala dan dosa kita akan ditimbang, Jika Pahala lebih berat maka dijanjikan surga, Jika dosa yg lebih berata maka terancam neraka. Jangan sampai dosa karna tidak berQurban akan membuat kita terancam neraka.

Untuk itu JUJURlah wahai saudaraku..

JUJURlah wahai saudaraku…

JUJURlah wahai saudaraku…

apakah kita termasuk orang yg mampu atau tidak?

Untuk lebih menyakinkan kita bahwa berQurab itu WAJIB hukumnya, mari kita baca dengan seksama penjelasan ahli’ilmi ttg Wajibnya berqurban beikut ini ===

 

Ulama berselisih pendapat tentang hukum qurban. Yang tampak paling RAJIH (tepat) dari dalil-dalil yang beragam adalah hukumnya WAJIB. Berikut ini akan aku sebutkan untukmu -wahai saudaraku muslim- beberapa hadits yang dijadikan sebagai dalil oleh mereka yang mewajibkan :

Pertama.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata : Bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. (yang artinya) : “ Siapa yang memiliki kelapangan (harta) tapi ia tidak menyembelih kurban maka jangan sekali-kali ia mendekati mushalla kami” [Riwayat Ahmad (1/321), Ibnu Majah (3123), Ad-Daruquthni (4/277), Al-Hakim (2/349) dan (4/231) dan sanadnya hasan]

Sisi pendalilannya adalah beliau melarang orang yang memiliki kelapangan harta untuk mendekati mushalla jika ia tidak menyembelih kurban. Ini menunjukkan bahwa ia telah meninggalkan KEWAJIBAN, seakan-akan tidak ada faedah mendekatkan diri kepada Allah bersamaan dengan meninggalkan kewajiban ini.

 

===Maksud MUSHALLA dalm hadits diatas adalah tanah lapang yang dijadikan sebagai tempat sholat’id, bukan musholla  seperti yang dipahami oleh kaum muslimin di Indonesia  yakni suatu ruangan yg dijadikan tempat sholat yg lebih kecil dari masjid, (emang kaum muslimin di negri tercinta ini banyak yg KELIRU dalam mengartikan bahasa arab seperti fitnah, syirik, muhrim, sunnah dll).

Dari Hadits diatas juga dapat diketahui bahwa berQurban itu BUKAN ibadah sekali seumur hidup, akan tetapi  berQurban wajib SETIAP kali mampu. Jika seseorang memiliki kelapangan (harta) setiap tahun maka WAJIB baginya berQurban setiap tahun juga.===

 

Kedua.
Dari Jundab bin Abdullah Al-Bajali, ia berkata : Pada hari raya kurban, aku menyaksikan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. (yang artinya) : “ Siapa yang menyembelih sebelum melaksanakan shalat maka hendaklah ia mengulang dengan hewan lain, dan siapa yang belum menyembelih kurban maka sembelihlah” [Diriwayatkan oleh Bukhari (5562), Muslim (1960), An-Nasa'i (7/224), Ibnu Majah (3152), Ath-Thayalisi (936) dan Ahmad (4/312,3131).] Perintah secara dhahir menunjukkan wajib, dan tidak ada [Akan disebutkan bantahan-bantahan terhadap dalil yang dipakai oleh orang-orang yang berpendapat bahwa hukum menyembelih kurban adalah sunnah, nantikanlah.] perkara yang memalingkan dari dhahirnya.

 

===Seandainya berQuran tidak wajib, tentu saja Nabi tidak akan menyuruh orang yang menyembelih sebelum melaksanakan shalat ‘idul adha untuk mengulang (menyembelih qurban lagi).===

Ketiga.
Mikhnaf bin Sulaim menyatakan bahwa ia pernah menyaksikan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah pada hari Arafah, beliau bersabda (yang artinya) : “ Bagi setiap keluarga wajib untuk menyembelih ‘atirah[Berkata Abu Ubaid dalam "Gharibul Hadits" (1/195) : "Atirah adalah sembelihan di bulan Rajab yang orang-orang jahiliyah mendekatkan diri kepada Allah dengannya, kemudian datang Islam dan kebiasaan itu dibiarkan hingga dihapus setelahnya.] setiap tahun. Tahukah kalian apa itu ‘atirah ? Inilah yang biasa dikatakan orang dengan nama rajabiyah” [Diriwayatkan Ahmad (4/215), Ibnu Majah (3125) Abu Daud (2788) Al-Baghawi (1128), At-Tirmidzi (1518), An-Nasa'i (7/167) dan dalam sanadnya ada rawi be7rnama Abu Ramlah, dia majhul (tidak dikenal). Hadits ini memiliki jalan lain yang diriwayatkan Ahmad (5/76) namun sanadnya lemah. Tirmidzi menghasankannya dalam "Sunannya" dan dikuatkan Al-Hafidzh dalam Fathul Bari (10/4), Lihat Al-Ishabah (9/151)]
Perintah dalam hadits ini menunjukkan wajib. Adapun ‘atirah telah dihapus hukumnya (mansukh), dan penghapusan kewajiban ‘atirah tidak mengharuskan dihapuskannya kewajiban kurban, bahkan hukumnya tetap sebagaimana asalnya.

Berkata Ibnul Atsir :’Atirah hukumnya mansukh, hal ini hanya dilakukan pada awal Islam.[ Jami ul-ushul (3/317) dan lihat 'Al-Adilah Al-Muthmainah ala Tsubutin naskh fii Kitab was Sunnah (103-105) dan "Al-Mughni" (8/650-651).]

Adapun orang-orang yang menyelisihi pendapat wajibnya kurban, maka syubhat mereka yang paling besar untuk menunjukkan (bahwa) menyembelih kurban hukumnya sunnah adalah sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang artinya) : “ Apabila masuk sepuluh hari (yang awal dari bulan Dzulhijjah -pen), lalu salah seorang dari kalian ingin menyembelih kurban maka janganlah ia menyentuh sedikitpun dari rambutnya dan tidak pula kulitnya”. [Diriwayatkan Muslim (1977), Abu Daud (2791), An-Nasa'i (7/211dan 212), Al-Baghawi (1127), Ibnu Majah (3149), Al-Baihaqi (9/266), Ahmad (6/289) dan (6/301 dan 311), Al-Hakim (4/220) dan Ath-Thahawi dalam "Syarhu Ma'anil Atsar" (4/181) dan jalan-jalan Ummu Salamah Radhiyallahu 'anha]

Mereka berkata ["Al-majmu" 98/302) dan Mughni Al-Muhtaj" (4/282) 'Syarhus Sunnah" (4/348) dan "Al-Muhalla" 98/3)] : “Dalam hadits ini ada dalil yang menunjukkan bahwa menyembelih hewan kurban tidak wajib, karena beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Jika salah seorang dari kalian ingin menyembelih kurban ….” , seandainya wajib tentunya beliau tidak menyandarkan hal itu pada keinginan (iradah) seseorang”.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah telah membantah syubhat ini setelah beliau menguatkan pendapat wajibnya hukum, dengan perkataannya [Majmu Al-Fatawa (22/162-163)]

“Orang-orang yang menolak wajibnya menyembelih kurban tidak ada pada mereka satu dalil. Sandaran mereka adalah sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Siapa yang ingin menyembelih kurban …..” Mereka berkata : “Sesuatu yang wajib tidak akan dikaitkan dengan iradah (kehendak/keinginan) !” Ini merupakan ucapan yang global, karena kewajiban tidak disandarkan kepada keinginan hamba maka dikatakan : “Jika engkau mau lakukanlah”, tetapi terkadang kewajiban itu digandengkan dengan syarat untuk menerangkan satu hukum dari hukum-hukum yang ada. Seperti firman Allah :
(yang artinya) : “ Apabila kalian hendak mengerjakan shalat maka basuhlah ….” [Al-Maidah : 6]

Dikatakan : Jika kalian ingin shalat. Dan dikatakan pula : Jika kalian ingin membaca Al-Qur’an maka berta’awudzlah (mintalah perlindungan kepada Allah). Thaharah (bersuci) itu hukumnya wajib dan membaca Al-Qur’an (Al-Fatihah-pent) di dalam shalat itu wajib.

Dalam ayat ini Allah berfirman (yang artinya) : “ Al-Qur’an itu hanyalah peringatan bagi semesta alam, (yaitu) bagi siapa di antara kalian yang ingin menempuh jalan yang lurus” [At-Takwir : 27]
Allah berfirman demikian sedangkan keinginan untuk istiqamah itu wajib”.

Kemudian beliau rahimahullah berkata [Sama dengan di atas] :
Dan juga, tidaklah setiap orang diwajibkan padanya untuk menyembelih kurban. Kewajiban hanya dibebankan bagi orang yang mampu, maka dialah yang dimaksudkan ingin menyembelih kurban, sebagaimana beliau berkata (yang artinya) : “ Siapa yang ingin menunaikan ibadah haji hendaklah ia bersegera menunaikannya ….. ” [Diriwayatkan Ahmad (1/214,323, 355), Ibnu Majah (3883), Abu Nu'aim dalam Al-Hilyah (1/114) dari Al-Fadl, namun pada isnadnya ada kelemahan. Akan tetapi ada jalan lain di sisi Abi Daud (1732), Ad-Darimi (2/28), Al-Hakim (1/448), Ahmad (1/225) dan padanya ada kelemahan juga, akan tetapi dengan dua jalan haditsnya hasan Insya Allah. Lihat 'Irwaul Ghalil" oleh ustadz kami Al-Albani (4/168-169)]

=== Terakhir  wahai saudaraku, ketahuilah bahwa berQurban adalah Ibadah. Maka tidak akan diterima kecuali setelah terpenuhi 2 syarat syah diterimanya amal (ibadah mahdoh) yakni :

  1. Ikhlas,

yakni (murni) hanya mengharapkan balasan dari Alloh’azza wa jalla.

Dengan amal ini kita Mengharapkan dimasukkan ke dalam surga, dijauhkan dari api neraka, Ingin bertemu/melihat Wajah-Nya, mengharap ridhoNya itu semua masih termasuk Ikhlas.

Jangan sampai tercampur dengan riya, sum’ah, sombong, dan ujub.

  1. Ittiba’

Yakni mengIKUTI sunnah (petunjuk) Rasululloh shallalloh’alaihi wasallam. Untuk itu kita haru mempelajari fiqh berqurban dari sunnah-sunnah Rasululloh shallalloh’alaihi wasallam, agar kita dapat mengetahui :

Apakah boleh menjual kulit hewan Qurban?

Apakah boleh mengadakan iuran/infaq qurban?

Apakah boleh berqurban utk org yg sudah wafat?

Apakah boleh berqurban atas nama sekolah, perusahaan, organisasi dll ?

Dst..

 

Cukup Sekian Wahai Saudara-Saudaraku se IMAN yang ku cintai

Yang BENAR adalah dari Alloh ‘azza wa jalla, sedangkan yang salah dari syaithon dan aku. Untuk itu aku memohon Ampun kepada Alloh dan meminta maaf kepada antum semuanya atas KESALAHANku.

Ya Alloh, Tunjukkanlah kepada kami bahwa yang BENAR itu BENAR dan berikan kami kekuatan untuk mengikutinya serta tunjukanlah kepada kami bahwa yang SALAH itu SALAH dan berikan kepada kami untuk menjauhinya.

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad shallallhu’alaihi wasaalam , kepada keluarganya, kepada seluruh sahabatnya, dan kepada orang-orang yang mengikuti sunnahnya hingga akhir zaman.

Akhir kata, Walhamdulillahirrobbil’alamin ===

 

 

 

JADWAL KAJIAN SALAF “AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH” di BINTARO, TANGERANG SELATAN

Terkirim 21 November 2009 oleh ADHA
Kategori: Uncategorized

HARI SABTU,
Ust.Mudrika Ilyas
Masjid An Nashr, bintaro sektor 5, depan (kanan) kampus STAN

- Pekan I
17.00 – Maghrib Umdatul Ahkam
Ba’da Magrib – Isya’ Tafsir

- Pekan II
17.00 – Maghrib Hadits2 Pilihan Bukhari Muslim
Ba’da Magrib – Isya’ Hadits2 Pilihan Bukhari Muslim

- Pekan III
17.00 – Maghrib Kaidah Fiqh
Ba’da Magrib – Isya’ Tazkiyatun Nafs

- Pekan IV
17.00 – Maghrib Bulughul Maram
Ba’da Magrib – Isya’ Tafsir

HARI AHAD
10.00 – Dzuhur, Masjid As Sunnah, Jl.Nusa Indah belakang Plaza Bintaro (021 91304479)
- Pekan I Tematik Ust.Arman Amri
- Pekan II Tematik Ust.Dian Ghazali

-Pekan III Tauhid, Jalan Keselamatan Ust.Imanuddin

-Pekan IV Islam dan Sunnah Ust.Firdaus Sanusi

Ba’da Subuh – 06.30, Masjid An Nashr, bintaro sektor 5, depan (kanan) kampus STAN
-Pekan IV Shahih Fiqhussunnah
Ust.Subhan Bawazier

Ba’da Maghrib – 20.00 (diselingi Shalat Isya berjamaah), Masjid Raya Bintaro, Sektor 9 belakang Mc D
Setiap Pekan Syarah Riyadhussholihin Ust.Muhtarom

HARI SENIN
Ba’da Maghrib – 20.00 (diselingi Shalat Isya berjamaah), Masjid An Nashr, bintaro sektor 5, depan STAN
Setiap Pekan Syarah Kitab TAUHID Ust.Muhtarom

WAHAI SAUDARAKU (SE ISLAM), ketahuilah SUTRAH/PEMBATAS itu WAJIB dalam SHALAT

Terkirim 18 November 2009 oleh ADHA
Kategori: Uncategorized

Bismillahirrohmanirrohim.
Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam, Rabb yang maha pengasih lagi maha penyayang, Rabb yang ‘istiwa diatas ‘arsy yg agung.
Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Pemimpin Umat yang tiada pernah kenal penat, yang membawa umat menuju jalan yang selamat, baik di dunia maupun di akhirat, Beliaulah Nabi besar MUHAMMAD shallallahu’alaihi wa ‘ala ahli baitihi wa’ala azwajihi wa zurriyatihi wasallam.
MEMBIASAKAN yang BENAR, bukan Membenar-benarkan KEBIASAAN
Tentang wajibnya SUTRAH dalam shalat

Apa yang dimaksud dgn Sutrah?
Sutrah adalah sesuatu yang dijadikan sebagai pembatas seseorang yang mendirikan shalat dengan sesuatu yang berjalan/lewat di depannya.

Berapa tinggi Sutrah ?
Tinggi Sutrah adalah minimal setinggi pelana, dalilnya : “Jika salah seorang dari kalian telah meletakkan tiang setinggi pelana di hadapannya, maka hendaklah ia shalat dan janganlah ia memperdulikan orang yang ada di belakangnya” dikeluarkan oleh Muslim dalam Shahih-nya no.499.
Tinggi pelana yaitu sepanjang (satu) hasta. Sebagaimana yang dijelaskan oleh ‘Atha`, Qatadah, ats-Tsaury serta Nafi’. Sehasta adalah ukuran di antara ujung siku sampai ke ujung jari tengah. Dan ukurannya kurang lebih: 46,2 cm.
Jika seorang tidak mendapatkan sutrah setinggi yang ditentukan yaitu minimal sehasta, maka baginya tetap mengambil sutrah apapun bentuknya, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang seseorang shalat dengan tidak memakai sutrah dan tidak ada hadits yang jelas menerangkan tentang pengertian mu’aharah ar-rahl. Allah Ta’ala berfirman: “Maka bertaqwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu” (QS.At-Taghabun:16). Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apabila aku telah perintahkan kepada kalian suatu perkara, maka kerjakanlah darinya semampu kalian.” (HR. al-Bukhari, 13/251).

Berapa Jarak antara Tempat kita berdiri dengan Sutrah ?
Jaraknya : 3 Hasta (skitar 130 cm). dalil : Diriwayatkan bahwa :”Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam berdiri di dekat tabir.Jarak antara beliau dengan tabir itu ada 3 hasta” (Shahih, HR.Bukhari dan Ahmad)

Apa saja yang bisa dijadikan Sutrah?
Sutrah bisa menggunakan : Pelana, dinding, tabir, punggung orang, tiang masjid, tas atau benda lainnya yang tingginya minimal satu hasta atau skitar 46,2 cm

Apa hukum memakai/menghadap Sutrah dalan shalat? Pada keadaan kapan (shalat wajib/sunnah/berjamaah)?
WAJIB…, dalilnya :
• Dari Abu Sa’id al-Khudri -radhiyallahu ‘anhuma-, dia berkata: Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:
k
((إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيُصَلِّ إِلَى سُتْرَةٍ، وَلْيَدْنُ مِنْهَا، وَلاَ يَدَعْ أَحَدًا يَمُرُّ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا، فَإِنْ جَاءَ أَحَدٌ يَمُرُّ فَلْيُقَاتِلْهُ، فَإِنَّهُ شَيْطَانٌ))
h
“Jika salah seorang dari kalian shalat hendaklah menghadap kepada sutrah dan hendaklah dia mendekat ke sutrah. Janganlah engkau membiarkan seorangpun lewat di antara engkau dengan sutrah. Jika ada seseorang melewatinya, hendaklah engkau membunuhnya, karena sesungguhnya dia itu syetan.” (dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah di dalam al-Mushannaf (1/279), Abu Dawud di dalam as-Sunan no. (297), Ibnu Majah di dalam as-Sunan no. (954), Ibnu Hibban di dalam ash-Shahih (4/ 48-49 al-Ihsan), al-Baihaqi di dalam as-Sunanul-Kubra (2/ 267). Dan sanadnya hasan.)

• Dari Ibnu ‘Umar -radhiyallahu ‘anhuma-, dia berkata: Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda: يَدَيْكَ، فَإِنْ أَبَى فَلْيُقَاتِلْهُ، فَإِنَّ مَعَهُ الْقَرِيْنلاَ تُصَلِّي إِلاَّ إِلَى سُتْرَةٍ، وَلاَ تَدَعْ أَحَدًا يَمُرُّ بَيْنَ

“Janganlah kalian shalat, kecuali menghadap sutrah dan janganlah kalian membiarkan seorangpun lewat di hadapanmu, jika dia menolak hendaklah kamu bunuh dia, karena sesungguhnya ada syetan yang bersamanya.” (Shahih, HR. Muslim dalam As-Shahih no. 260, Al- Hakim dalam Al-Mustadrak 1/251 dan Baihaqi dalam As-Sunan Al- Kubra 2/268)

• Dari Sahl bin Abu Hitsmah -radhiyallahu ‘anhu-: Dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam-, beliau berkata: يْطَانُ عَلَيْهِ صَلاَتَهُإِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ إِلَى سُتْرَةٍ، فَلْيَدْنُ مِنْهَا، لاَيَقْطَعُ الشَّ

“Jika salah seorang dari kalian shalat menghadap sutrah, hendaklah ia mendekatinya, sehingga syetan tidak memutus atas shalatnya.” (dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah di dalam al-Mushannaf (1/ 279), Ahmad di dalam al-Musnad (4/ 2), Abu Dawud di dalam as-Sunan no. (695), an-Nasa`i di dalam al-Mujtaba (2/ 62), Ibnu Khuzaimah di dalam ash-Shahih no.(803), dan hadits tersebut shahih)

…WAJIB menghadap sutrah pada pada setiap keadaan : shalat berjamaah atau sendirian, shalat wajib atau shalat sunnah (seperti shalat duha, shalat sunnah rawatib, tahiyatul masjid dll), berdasarkan keumuman dalil diatas dan tidak ditemukan dalil yang mengkhususkan waktu, tempat, orang dsb dalam sutrah. Sedangkan tentang sutrah shalat berjamaah dijelaskan dibawah ini.

Bagaimana Sutrah pada shalat Berjamaah ? Siapa yang wajib Sutrah ?
Sutrah dalam shalat berjama’ah itu terletak pada sutrahnya Imam, makmum tidak WAJIB memasang sutrah, dalilnya :
Riwayat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, dan beliau masik kanak-kanak sbb , katanya
“Aku datang dengan mengendarai seekor keledai betina, dan aku pada hari itu sudah menjelas masa bermimpi, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang shalat bersama manusia di Mina, lalu aku melewati di antara shaff, lantas aku turun dan melepaskan keledai untuk pergi, lalu aku memasuki shaff. Dan tidak seorang pun mengingkari perbuatanku itu.”(HR. Muslim, Shahih no.504 (1/361); Al-Bukhari, Shahih no.76 (1/41), 471 (1/187), 823 (1/294))
Dari hadits diatas diketahui bahwa para shahabat RodiAllhuanhum tidak menghalangi Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma melewati saf mereka sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak wajib sutrah bagi makmum sebab jika wajib tentu saja para shahabat RodiAllhuanhum akan menghalangi Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma lewat sutrah mereka. Jadi bagi setiap makmum tidaklah wajib membuat sutrah untuk dirinya dan (tidak wajib) menahan orang yang melewatinya. Tidak ada perselisihan di antara para ulama terhadap perkara ini. Lihat : Fathul Baari (1/ 572).
Intinya : pada shalat berjamaah yg WAJIB menggunakan sutrah adalah IMAM.

Apakah tetap wajib memakai Sutrah kalau kita shalat dirumah, dikamar, di sebelah dinding, atau ditempat lainnya yang tidak mungkin ada manusia lewat didepannya?
Iya tetap WAJIB karna syaithan dapat memutus shalatnya. Dalilnya : Hadits riwayat Sahl bin Abi Hutsmah, dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam,beliau bersabda: “Jika salah seorang di antara kalian shalat menghadap sutrah, maka hendaklah ia mendekat sehingga syaithan tidak dapat memutus shalatnya.” (HR. Ibnu Abi Syaibah, 1/279; Ahmad, 4/2; Abu Dawud, 1/111 dan selain mereka)

Bagaimana kalau kita shalat tidak menghadap sutrah apakah shalat kita sah?
Iya tetap sah karna sutrah bukan termasuk syarat sah shalat, tapi kita berdosa karna tidak mengikuti perintah Nabi yang mulia Shallallhu’alaihi wassallam. Kalau berdosa tentu kita tahu ancamannya Neraka karna sudah kita ketahui bahwa di hari kiamat nanti pahala dan dosa kita akan ditimbang. Apabila pahala lebih berat timbangannya maka dijanjikan surga dan jika dosa yang lebih berat maka ancamannya neraka. Tentu saja lebih baik bagi kita untuk menghindari dosa.

Bagaimana kalau kita shalat (sendirian/tidak berjamaah) tidak menghadap Sutrah lalu ada orang yang melewati kita? Apakah batal shalat kita ?
Tidak batal tapi kesempurnaan shalatnya berkurang, kecuali yang lewat adalah wanita dewasa, anjing hitam, atau keledai maka shalat kita Batal. dalilnya : Hadits riwayat Abdullah bin Mughaffal dan selainnya bahwa Rasulullah Shallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Yang membatalkan shalat adalah anjing hitam, keledai dan wanita haid(dewasa).” (HR. Ahmad, 4/76; Ibnu Majah, 1/306)

Bagaimana kalau kita shalat (sendirian/tidak berjamaah) menghadap Sutrah lalu ada sesuatu yang ingin melewati antara kita dengan sutrah?
…Kita harus mencegah orang itu, Bahkan diperbolehkan untuk menyakitinya kalau dia masih bersikeras ingin lewat antara kita dengan sutrah. Dalilnya : Dari Ibnu ‘Umar -radhiyallahu ‘anhuma-, dia berkata: Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:”Janganlah kalian shalat, kecuali menghadap sutrah dan janganlah kalian membiarkan seorangpun lewat di hadapanmu, jika dia menolak hendaklah kamu bunuh dia, karena sesungguhnya ada syetan yang bersamanya.”dikeluarkan oleh Muslim di dalam ash-Shahih
….Kalau yang ingin lewat itu tidak berakal seperti kambing maka dianjurkan bagi kita untuk mendekati Sutrah agar kambing itu tidak lewat antara kita dengan sutrah sehingga ia lewat dibelakang kita. Dalilnya : Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam tidak pernah membiarkan sesuatu berlalu diantara dirinya dengan tabir. Dan pernah : “Beliau shalat, tiba-tiba datanglah seekor kambing berlari di hadapannya,lalu beliau berlomba dengannya hingga beliau menempelkan perutnya ke tabir -dan berlalulah kambing itu di belakang beliau-” (Ibnu Khuzaimah di dalam ash-Shahih (1/95/1), Ath Thabrani(3/104/3), Al-Hakim dan dishahihkan olehnya, dan disepakati oleh Adz-Dzahabi.)

Bagaimana kalau kita mendapati orang shalat tidak menghadap Sutrah, apakah boleh melewatinya?
Tidak boleh melewatinya karna ancaman yang akan menimpa sangat besar, jadi kita harus mencari jalan lain atau harus menunggu dia selesai shalat, dalilnya : “Sekiranya orang yang berlalu di hadapan orang yang shalat itu mengetahui apa yang akan menimpanya, niscaya untuk berhenti selama 40 (tahun) ,adalah lebih baik baginya daripada untuk berlalu dihadapannya “.(Shahih ,H.R Al – Bukhari dan Muslim, riwayat lainnya adalah riwayat Ibnu Khuzaimah(1/94/1)).

Bagaimana kalau sutrah kita itu punggung orang lalu orang itu pergi?
Kita harus berusaha (walau tidak wajib) mencari sutrah baru walaupun dengan cara berjalan misalnya mendekati dinding atau tiang. Hal itu tidaklah membatalkan shalat karna melakukan suatu gerakan dalam shalat yang ada suatu tujuan yang syar i pernah dilakukan oleh Rasul yang mulia dalam shalatnya “Dari Aisyah Radhiallaahu anha, ia berkata, ‘Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam sedang shalat di dalam rumah, sedangkan pintu tertutup, kemudian aku datang dan minta dibukakan pintu, beliau pun berjalan menuju pintu dan membukakannya untukku, kemudian beliau kembali ke tempat shalatnya. Dan terbayang bagiku bahwa pintu itu menghadap kiblat.” (HR. Ahmad, Abu Daud, At-Tirmidzi dan lainnya, hadits hasan)

Bagaimana kalau kita (sebagai makmum masbuq) setelah imam salam, apakah harus mencari Sutrah?
Seorang makmum masbuq (tertinggal satu raka’at atau lebih dalam shalat berjama’ah) maka baginya diperbolehkan mendekat ke tempat yang dapat dijadikan sutrah setelah imam salam, baik ke depan, ke sisi kanan atau ke sisi kiri, jika jaraknya dekat. Dan jika agak jauh maka baginya tetap berdiri dan berusaha menghindar dari orang yang melewatinya. Hal ini dikarenakan pada asalnya seorang makmum yang masbuq seharusnya tetap shalat sebagaimana yang diperintahkan, dan dalam kondisi demikian tidak wajib baginya sutrah sebagaimana seorang yang menjadikan tunggangannya sebagai sutrah lalu tunggangannya menjauhinya, maka dalam kondisi demikian bukan kesalahannya. Sebagaimana yang dinukil az-Zarqaani dari imam Malik. (Lihat, Syarah aj-Jarqaani ‘ala Muhtashar Khalil, 1/208) Akan tetapi, jika dia mempunyai kemudahan membuat sutrah, agar tidak menjatuhkan orang yang lewat kedalam dosa, maka dia wajib membuat sutrah. Jika tidak mudah baginya untuk membuat sutrah, maka dia berusaha menolak orang yang melewati depannya.( Lihat: Ahkam as-Sutrah (hlm. 21-22))

Ajakan : Wahai saudaraku, sutrah dalam shalat adalah perintah dari Rasul yang kita cintai. Setelah mengetahui tentang WAJIBnya sutrah dalam shalat, sudah seharusnya bagi kita untuk mengamalkannya dan menasihati saudara kita yang belum mengamalkannya. Janganlah kita sombong atau menolak mengamalkannya karna ro’yu, akal, pendapat, kebiasaan sebab sudah jelas bagi suatu kebenaran. Dan ditegaskan bahwa wajibnya Sutrah bukanlah masalah khilafiah (perbedaan pendapat) karna Rasul yang mulia shallallahu’alaihi wassallam dengan tegas memerintahkannya sehingga tidak pantas bagi kita untuk berbeda pendapat dengan beliau dan keharusan bagi kita untuk mentaati perintahnya.
Memang itu bukan perkara mudah untuk menjalankan perintah tersebut karna kita sudah terbiasa shalat tanpa menghadap sutrah, selain itu kebanyakan orang, bahkan tidak jarang orang yang kita sebut USTADZpun, shalat tanpa sutrah.
Wahai saudaraku marilah mulai saat ini kita MEMBIASAKAN yang BENAR, bukan Membenar-benarkan KEBIASAAN.
Apa itu Kebenaran? BENAR adalah yang sesuai dengan Al Quran dan Sunnah serta tentu saja dengan pemahaman yang salim (selamat). Adapun Kebiasaan, Tradisi Kebanyakan orang, Perkataan/Perbuatan Ustadz, Kiyai dll TIDAK bisa dijadikan Dasar/Hujjah karna Semua itu bisa benar, bisa Salah.

Maraaji : www.alsofwa.or.id, mailing list assunnah@yahoogroups.com,


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.